Mahjong Ways 2: Simulasi Sederhana untuk Memahami Konsep Probabilitas
Teori peluang sering terasa abstrak. Melalui aktivitas ini, konsep matematika bisa dipelajari dengan cara yang lebih konkret dan menyenangkan.
Namaku Benny. Dua belas tahun lalu, saya adalah seorang pedagang asongan di terminal bus antar kota. Setiap hari, dari pukul lima pagi hingga malam, saya menawarkan rokok, permen, dan kopi sachet kepada para penumpang yang baru turun atau menunggu keberangkatan. Tugas saya sederhana: menjual sebanyak mungkin. Tapi di balik kesederhanaan itu, tanpa sadar saya sedang mengamati sesuatu yang lebih besar: perilaku manusia.
Saya hafal betul, pukul 06.00-08.00 adalah waktu sibuk para pegawai. Mereka cenderung membeli kopi sachet dan rokok kretek. Pukul 10.00-14.00, giliran para pedagang yang pulang belanja. Mereka lebih sering beli permen untuk dijual lagi atau rokok filter yang lebih murah. Sore hari, para pelajar dan mahasiswa pulang kuliah, mereka membeli permen rasa-rasa baru yang lagi viral.
Saya mulai mencatat semuanya di buku bekas paket rokok. Tanpa gelar statistik, tanpa komputer canggih, saya sedang melakukan riset pasar. Saya belajar bahwa setiap gelombang penumpang punya kebutuhan berbeda, dan kalau saya bisa membaca pola itu, dagangan saya lebih cepat habis. Dari sinilah perjalanan saya sebagai analis data pasar dimulai.
Pukul 08.00: Sarapan dengan Mantan Rekan Kerja
Minggu lalu, saya sarapan dengan Andi, mantan rekan kerja di sebuah perusahaan riset pasar tempat saya sekarang bekerja. Ia kagum dengan cerita perjalanan saya.
"Ben, dulu lo jualan di terminal, sekarang jadi analis data. Banyak yang nggak percaya," kata Andi sambil nyeruput kopi.
Saya tertawa. "Lo tahu nggak, Di, ilmu riset pasar itu sebenernya udah saya praktekkin dari dulu. Waktu jualan asongan, saya harus tau jam berapa bapak-bapak kantoran turun, jam berapa emak-emak belanja pulang, dan camilan apa yang lagi trend di kalangan anak muda. Cuma dulu alatnya buku bekas, sekarang pake software."
"Tapi kan riset pasar butuh metodologi, data bersih, sampel representatif..."
"Iya, itu semua alat bantu. Tapi intinya sama: observasi, catat, cari pola, lalu ambil tindakan. Dulu saya catat jam sibuk di buku rokok, sekarang saya olah big data di laptop. Bedanya cepet atau lambat, tapi nalarnya sama."
Dari Catatan Pinggir ke Data Terstruktur
Dulu, di terminal, saya punya buku kecil. Saya catat:
- Senin pagi: banyak pegawai, rokok kretek laris, kopi sachet laris.
- Selasa siang: pedagang pulang, permen murah laris, rokok filter laris.
- Jumat sore: mahasiswa pulang, permen rasa aneh-aneh laris, kopi kekinian (yang baru mulai trend) laris.
Catatan itu adalah data saya. Tanpa sadar, saya sedang melakukan segmentasi pasar. Saya tahu persis kapan harus stok barang A lebih banyak, dan kapan harus hindari barang B.
"Lalu, gimana ceritanya lo bisa sampai ke perusahaan riset?" tanya Andi suatu hari.
"Kebetulan. Ada konsumen yang ternyata manajer pemasaran sebuah merek makanan ringan. Waktu itu dia lagi survey di terminal, lihat dagangan saya paling cepat habis. Dia tanya, 'Mas, kok tau kalau sore begini anak-anak muda suka permen rasa bubble gum?' Saya tunjukin buku catatan saya. Dia tertarik. Awalnya saya diajak jadi asisten riset kecil-kecilan, lalu pelan-pelan belajar sampai sekarang."
Pukul 10.00: Mengamati Mahjong Ways 2 sebagai Simulasi Probabilitas
Sabtu lalu, saya mampir ke warnet langganan dulu. Masih sama seperti 10 tahun lalu, hanya sekarang lebih banyak yang main game online. Saya melihat seorang pemain, sebut saja Rudi, sedang asyik main Mahjong Ways 2.
Saya perhatikan cara dia main. Setiap kali kalah, dia menggerutu. Setiap kali menang kecil, dia tersenyum. Tapi yang menarik, dia tidak pernah mencatat apa pun. Dia hanya mengandalkan feeling.
Saya mendekat. "Dik, sibuk?"
"Iya, Pak. Lagi ngejar scatter," jawabnya tanpa menoleh.
"Boleh saya lihat sebentar? Saya lagi riset soal probabilitas."
Ia menoleh, penasaran. "Probabilitas apa, Pak?"
"Peluang. Matematika di balik game ini. Kalau kamu mau, kita bisa cobain simulasi sederhana."
Rudi mengangguk. Saya pun mulai menjelaskan.
Simulasi #1: Melempar Koin Digital
"Dik, anggap kita main tebak gambar atau angka. Setiap lemparan, peluangnya 50:50. Tapi coba kita lakukan 10 kali lemparan dan lihat hasilnya."
Saya buka aplikasi random number generator di ponsel. Kami "melempar koin" 10 kali. Hasilnya: 7 gambar, 3 angka.
"Nah, secara teori seharusnya 5:5. Tapi karena cuma 10 kali, fluktuasi bisa terjadi. Ini yang namanya variansi sampling. Semakin sedikit sampel, semakin besar kemungkinan hasilnya menyimpang dari teori."
Rudi manggut-manggut. "Terus hubungannya sama game, Pak?"
"Di Mahjong Ways 2, setiap putaran seperti lemparan koin, tapi dengan banyak kemungkinan. Simbol scatter punya peluang tertentu. Misalnya, katakanlah peluang scatter muncul adalah 1 banding 100. Itu artinya, secara rata-rata, setiap 100 putaran akan muncul satu scatter. Tapi dalam 10 putaran, bisa saja muncul 3 scatter, bisa juga tidak muncul sama sekali."
"Berarti kalau saya sudah main 200 putaran dan belum dapat scatter, itu wajar?"
"Wajar. Karena peluangnya tetap 1 banding 100 setiap putaran. Masa lalu tidak mempengaruhi masa depan."
Pukul 13.30: Ngobrol dengan Bu RT soal Jualan dan Probabilitas
Siang itu, saya mampir ke warung langganan. Bu RT, pemilik warung, sedang menghitung stok barang. Saya ceritakan tentang percakapan dengan Rudi.
"Bu RT, sebenarnya Ibu juga setiap hari main probabilitas, tanpa sadar."
"Maksudnya, Mas?"
"Ibu stok barang berdasarkan perkiraan: kira-kira yang bakal laris apa. Itu probabilitas. Ibu nebak peluang barang tertentu laris. Makin banyak data, makin akurat tebakannya."
"Jadi, saya harus catat terus ya, Mas?"
"Iya, Bu. Semakin banyak data, semakin kita paham pola. Tapi ingat, probabilitas itu bukan kepastian. Kadang barang yang biasanya laris, tiba-tiba sepi. Itu wajar."
Bu RT manggut-manggut. "Berarti saya harus siap-siap kalau tebakan saya meleset?"
"Nah, itu dia. Probabilitas mengajarkan kita untuk tidak pernah 100 persen yakin. Selalu siapkan rencana cadangan."
Simulasi #2: Hukum Jumlah Besar
Kembali ke Rudi. Saya ajak dia melakukan simulasi kedua.
"Dik, sekarang kita lempar koin 1000 kali. Tapi nggak usah beneran, kita pakai simulasi. Dalam 1000 lemparan, hasilnya akan mendekati 500 gambar, 500 angka. Ini yang disebut hukum jumlah besar."
Saya tunjukkan grafik simulasi. Di awal, garisnya naik turun tidak menentu. Tapi semakin banyak lemparan, garisnya semakin mendekati 50 persen.
"Nah, di game juga begitu. Dalam jangka pendek, hasil bisa sangat fluktuatif. Ada yang menang besar dalam 10 putaran. Tapi dalam jangka panjang—ribuan putaran—hasilnya akan mendekati apa yang disebut house edge."
"Maksudnya house edge, Pak?"
"Keuntungan matematis yang sudah dirancang oleh pembuat game. Misalnya, untuk setiap Rp 100 yang dipertaruhkan pemain secara kolektif, game ini dirancang untuk membayar kembali Rp 96. Artinya, house edge-nya 4 persen. Dalam jangka panjang, pemain akan kehilangan 4 persen dari total taruhan."
"Berarti saya pasti kalah kalau main terus?"
"Secara matematis, iya. Tapi dalam jangka pendek, kamu bisa menang. Itu yang membuat game ini menarik—dan berbahaya."
Pukul 16.30: Diskusi dengan Komunitas Data Analyst
Sore itu, saya ikut diskusi online dengan komunitas data analyst. Topiknya: "Belajar Probabilitas dari Game".
Saya ceritakan tentang percakapan dengan Rudi dan Bu RT.
"Teman-teman, game seperti Mahjong Ways 2 sebenarnya adalah simulator probabilitas yang sangat baik. Setiap putaran mengajarkan kita tentang randomnes, variansi, dan hukum jumlah besar."
Seorang peserta bertanya, "Pak Benny, apa bedanya belajar probabilitas dari buku dengan dari game?"
"Di buku, kita melihat angka dan rumus. Di game, kita mengalami langsung fluktuasinya. Kita merasakan euforia saat menang, dan frustrasi saat kalah. Ini membuat konsep abstrak jadi lebih konkret dan mudah diingat."
"Tapi bukannya itu berisiko, Pak? Soalnya bisa jadi judi."
"Risiko itu ada kalau kita main tanpa kesadaran. Tapi kalau kita main sebagai simulasi belajar—dengan uang virtual, atau dengan batasan ketat—maka ini bisa jadi alat pendidikan yang efektif. Sama seperti belajar naik sepeda: ada risiko jatuh, tapi kalau hati-hati, kita bisa belajar."
Tiga Konsep Probabilitas dari Mahjong Ways 2
Dari pengamatan dan simulasi, saya merangkum tiga konsep probabilitas yang bisa dipelajari dari Mahjong Ways 2:
- Independensi: Setiap putaran tidak terpengaruh putaran sebelumnya. Ini mengajarkan bahwa "sudah lama tidak muncul" tidak berarti "akan segera muncul".
- Variansi Sampling: Dalam sampel kecil, hasil bisa sangat berbeda dari teori. Ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru menyimpulkan dari sedikit data.
- Hukum Jumlah Besar: Semakin banyak sampel, hasil semakin mendekati nilai yang diharapkan. Ini mengajarkan pentingnya melihat gambaran besar, bukan fluktuasi sesaat.
Tiga konsep ini adalah fondasi statistik dan probabilitas. Dan yang menarik, semua bisa dipelajari melalui game sederhana.
Pukul 19.00: Ngobrol dengan Rina, Dosen Statistika
Malamnya, saya menelepon Rina, teman lama yang sekarang jadi dosen statistika di sebuah universitas. Saya ceritakan tentang ide ini.
"Ben, itu ide bagus. Selama ini mahasiswa saya kesulitan memahami konsep abstrak seperti randomnes dan variansi. Kalau mereka bisa mengalami langsung melalui simulasi game, mungkin pemahamannya lebih dalam," kata Rina.
"Tapi kan game ini pakai uang asli, Rin. Risiko."
"Bisa pakai mode demo. Banyak game menyediakan versi gratis dengan koin virtual. Itu aman dan tetap bisa jadi alat belajar. Atau pakai analogi saja, seperti yang kamu lakukan dengan Rudi."
"Iya, aku pakai lempar koin dan simulasi sederhana."
"Nah, itu sudah cukup. Yang penting adalah pengalaman memahami bahwa dunia ini penuh ketidakpastian, dan probabilitas adalah alat untuk mengukurnya, bukan untuk memprediksi dengan pasti."
Pukul 21.30: Merenung di Meja Kerja
Malam ini, setelah seharian mengamati dan berdiskusi, saya duduk merenung. Saya buka buku catatan lama, tempat saya dulu mencatat perilaku pembeli di terminal.
Saya teringat, dulu saya juga sering salah membaca probabilitas. Saya kira hari hujan pasti sepi pembeli, ternyata malah ramai karena orang berteduh. Saya kira hari libur pasti banyak anak muda, ternyata mereka pergi ke mal.
Dari situ saya belajar: probabilitas bukan tentang kepastian, tapi tentang kemungkinan. Dan kemungkinan terbaik sekalipun bisa meleset. Yang penting kita siap dengan segala kemungkinan.
Pukul 08.30: Sarapan Kedua dengan Andi
Keesokan harinya, saya sarapan lagi dengan Andi. Saya ceritakan tentang semua pengalaman ini.
"Jadi, lo sekarang ngajarin probabilitas lewat game?" tanya Andi.
"Bukan ngajarin, Di. Tapi menunjukkan bahwa probabilitas itu ada di mana-mana. Di jualan, di game, di kehidupan sehari-hari. Yang penting kita paham konsep dasarnya."
"Konsep apa yang paling penting?"
"Bahwa tidak ada yang pasti. Probabilitas hanya memberi kita gambaran, bukan jaminan. Orang bijak adalah orang yang selalu siap dengan kemungkinan terburuk, sambil tetap berharap yang terbaik."
Andi manggut-manggut. "Jadi, main game bisa bikin kita lebih bijak?"
"Bisa, kalau kita main dengan kesadaran. Kalau main asal-asalan, ya cuma buang waktu."
Penutup: Probabilitas dalam Kehidupan
Saya Benny. Dulu pedagang asongan di terminal. Sekarang analis data pasar di perusahaan riset. Saya belajar bahwa probabilitas bukan hanya rumus di buku teks, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mahjong Ways 2, dengan segala kontroversinya, bisa menjadi simulasi sederhana untuk memahami konsep ini. Tapi yang lebih penting, pelajaran dari game ini bisa kita bawa ke dunia nyata: dalam mengambil keputusan bisnis, dalam mengelola keuangan, dalam menjalani hubungan, dalam merencanakan masa depan.
Setiap hari kita dihadapkan pada probabilitas. Dan semakin kita paham cara kerjanya, semakin baik kita dalam mengambil keputusan. Bukan untuk menghindari risiko, tapi untuk mengelolanya dengan bijak.
Jawabannya, saya serahkan pada Anda. Mau belajar probabilitas dari mana hari ini?
Catatan kecil: Tulisan ini adalah refleksi seorang analis data yang percaya bahwa ilmu bisa datang dari mana saja—termasuk dari game. Saya tidak bermaksud mengajak Anda main game berlebihan. Justru sebaliknya: mainlah dengan sadar, jadikan laboratorium belajar, dan bawa pelajarannya ke kehidupan nyata. Jika Anda punya pengalaman atau strategi lain dalam memahami probabilitas, silakan bagikan. Karena dengan berbagi, kita sama-sama belajar bahwa dunia ini penuh kemungkinan, dan kita bisa lebih siap menghadapinya.
Home
Bookmark
Bagikan
About