Psikologi di Balik Mahjong Ways: Mengapa Kita Mudah Terbawa Emosi Saat Bermain
Memahami emosi diri adalah langkah awal menuju kedewasaan. Pelajari cara mengelola perasaan saat menghadapi kemenangan maupun kekalahan.
Namaku Benny. Dua belas tahun lalu, saya adalah seorang pedagang asongan di terminal bus antar kota. Setiap hari, dari pukul lima pagi hingga malam, saya menawarkan rokok, permen, dan kopi sachet kepada para penumpang. Saya belajar banyak tentang emosi manusia dari tempat itu.
Saya lihat sendiri bagaimana seorang bapak yang tadinya sabar bisa tiba-tiba marah besar karena ketinggalan bus. Saya lihat bagaimana seorang ibu yang awalnya kalem bisa menangis tersedu-sedu karena dompetnya dicopet. Terminal adalah laboratorium emosi yang luar biasa.
Sekarang, setelah sering ngobrol dengan para pemain Mahjong Ways, saya melihat pola emosi yang sama. Kemenangan kecil bikin euforia, kekalahan beruntun bikin frustrasi. Yang tadinya main santai, tiba-tiba jadi emosian. Padahal, memahami dan mengelola emosi ini adalah kunci agar kita bisa menikmati permainan dengan bijak.
Pukul 08.00: Sarapan dengan Andi yang Emosian
Minggu lalu, saya sarapan dengan Andi, mantan rekan kerja. Wajahnya kusut.
"Ben, gue semalem emosi banget main Mahjong Ways. Kalah terus, gue jadi gregetan. Akhirnya malah tambah kalah banyak."
Saya tersenyum. "Di, lo baru aja ngalamin yang namanya tilt. Istilah dalam psikologi main game, di mana emosi bikin lo kehilangan kendali."
"Tilt? Apa itu?"
"Kondisi di mana emosiāmarah, kecewa, frustrasiāmenguasai diri, sehingga lo nggak bisa mikir jernih. Akibatnya, keputusan lo jadi buruk. Makin main, makin kalah."
Andi manggut-manggut. "Berarti gue kena tilt semalam?"
"Iya. Dan lo nggak sendirian. Hampir semua pemain pernah ngalamin."
Pukul 10.00: Mengunjungi Psikolog untuk Memahami Emosi
Setelah sarapan, saya memutuskan untuk bertemu Rina, psikolog kognitif yang sudah beberapa kali saya ajak diskusi. Saya ingin mendalami soal emosi dalam bermain game.
"Rina, kenapa sih kita gampang terbawa emosi pas main game?"
Rina tersenyum. "Karena game dirancang untuk memicu emosi, Ben. Ada mekanisme reward yang bikin kita senang saat menang, dan mekanisme near-miss yang bikin kita frustrasi tapi tetap termotivasi. Ditambah lagi, kita punya ego. Kalah itu terasa seperti serangan personal."
"Maksudnya?"
"Banyak orang merasa, kalau kalah, berarti dia bodoh, dia nggak becus. Padahal kalah dalam game yang acak itu wajar. Tapi karena ego terlibat, kekalahan jadi terasa menyakitkan. Akibatnya, emosi naik."
Pukul 13.30: Ngobrol dengan Bu RT soal Emosi Berjualan dan Bermain
Siang itu, saya mampir ke warung langganan. Bu RT, pemilik warung, lagi santai. Saya tanya soal pengalamannya main game.
"Bu RT, kalau main Mahjong Ways, pernah nggak emosi?"
"Pernah, Mas. Waktu itu kalah terus, saya jadi bete. Sampe pembeli saya layanin jutek. Eh, pembeli kapok, nggak balik lagi. Saya sadar, emosi saya nggak cuma rugiin saya di game, tapi juga di dagangan."
"Wah, Bu RT sadar ya. Itu bagus."
"Iya, Mas. Saya jadi ingat waktu jualan dulu. Kalau lagi banyak pembeli, saya harus tetap tenang, jangan sampai salah ngitung. Kalau lagi sepi, saya nggak boleh frustrasi, harus tetap ramah sama yang lewat. Saya terapin itu pas main game."
Saya tersenyum. Bu RT, tanpa pendidikan psikologi, paham betul pentingnya manajemen emosi.
Tiga Emosi Utama Saat Bermain
Dari diskusi dengan Rina dan pengamatan, saya mengidentifikasi tiga emosi utama yang sering muncul saat bermain Mahjong Ways:
- Euforia saat menang: Bikin kita ingin main terus, kadang lupa diri.
- Frustrasi saat kalah: Bikin emosi naik, ingin membalas kekalahan.
- Penasaran saat near-miss: Hampir menang bikin kita terus mencoba, meskipun secara statistik tetaplah kalah.
Ketiga emosi ini, kalau nggak dikelola, bisa bikin kita kehilangan kendali. Euforia bikin kita overconfidence, frustrasi bikin kita melakukan chasing losses, penasaran bikin kita terus bermain meskipun sudah waktunya berhenti.
Pukul 16.00: Diskusi dengan Rian tentang Tilt di Komunitas Game
Sore itu, saya mampir ke komunitas game. Rian, ketua komunitas, lagi diskusi dengan anggota tentang pengalaman tilt.
"Bang Benny, di komunitas kami, tilt jadi topik hangat. Banyak yang ngalamin, terutama pemula. Mereka kalah, emosi, main terus, kalah lagi. Lingkaran setan."
"Nah, itu dia. Tilt itu musuh utama. Makanya penting banget punya strategi untuk mengenali dan mengelola emosi."
"Gimana caranya, Bang?"
"Pertama, kenali tanda-tanda awal. Kalau lo mulai gregetan, kesel, pengen lempar HP, itu tanda lo mulai tilt. Kedua, berhenti sejenak. Ambil napas, jalan, minum air. Jangan lanjut main sebelum emosi reda."
Anggota komunitas manggut-manggut. Mereka mulai paham.
Pukul 19.00: Ngobrol dengan Yudha soal Pengalaman Emosinya
Malamnya, saya ngobrol dengan Yudha, YouTuber analisis pola yang sukses. Saya tanya pengalamannya soal emosi.
"Yud, lo pernah nggak ngalamin tilt?"
Yudha tertawa. "Sering banget, Bang, apalagi dulu. Saya pernah kalah besar gara-gara emosi. Untungnya saya sadar dan belajar dari situ."
"Gimana cara lo mengelola emosi sekarang?"
"Saya punya aturan: kalau kalah 3 kali berturut-turut, saya berhenti. Jalan dulu, ngopi, atau nonton video lucu. Pokoknya reset dulu. Baru kalau udah tenang, boleh lanjut. Dan saya selalu ingat, ini cuma game. Bukan hidup mati."
"Bagus itu. Banyak orang lupa kalau game itu hiburan."
"Iya, Bang. Makanya penting banget punya perspektif yang benar."
Strategi Mengelola Emosi Saat Bermain
Dari berbagai diskusi, saya merangkum beberapa strategi untuk mengelola emosi saat bermain:
- Kenali Pemicu Emosi: Apa yang bikin lo emosi? Kalah beruntun? Atau near-miss? Dengan tahu pemicunya, lo bisa antisipasi.
- Pasang Batas Waktu dan Kekalahan: Tentukan dari awal berapa lama lo akan main, dan berapa maksimal kerugian yang lo terima. Disiplin.
- Ambil Jeda: Kalau mulai terasa emosi, berhenti. Jalan, ambil napas, minum. Jangan lanjut sebelum tenang.
- Ingat Tujuan Utama: Lo main untuk hiburan, bukan untuk cari nafkah. Kalau lo ingat ini, kekalahan nggak akan terlalu menyakitkan.
- Bicara dengan Orang Lain: Curhat sama teman tentang kekalahan lo bisa mengurangi beban emosi.
Yang paling penting: pahami bahwa emosi itu manusiawi. Yang membedakan orang dewasa dengan anak-anak bukan karena tidak pernah emosi, tapi karena mampu mengelola emosinya.
Pukul 21.30: Merenung di Meja Kerja
Malam ini, setelah seharian berdiskusi, saya duduk merenung. Saya buka buku catatan lama, tempat saya dulu mencatat perilaku pembeli di terminal.
Saya teringat, dulu saya sering emosi kalau ada pembeli yang nawar keterlaluan. Tapi setelah beberapa kali, saya belajar untuk tetap tenang. Saya sadar, kalau saya emosi, saya yang rugi. Pembeli pergi, dagangan nggak laku.
Saya tersenyum. Ternyata, pelajaran tentang manajemen emosi sudah saya praktikkan sejak lama. Baik di terminal, maupun sekarang saat mengamati pemain game.
Pukul 08.30: Sarapan Kedua dengan Andi
Seminggu kemudian, saya sarapan lagi dengan Andi. Wajahnya lebih tenang.
"Ben, setelah ngobrol sama lo dan baca catatan lo, saya coba terapkan strategi manajemen emosi. Sekarang kalau mulai gregetan, saya berhenti. Hasilnya, saya lebih bisa menikmati game, nggak stres kayak dulu."
"Syukurlah, Di. Itu artinya lo sudah mulai dewasa dalam mengelola emosi."
"Iya. Sekarang saya paham, kemenangan sejati bukan cuma soal menang di game, tapi bisa mengendalikan diri sendiri."
Penutup: Emosi Adalah Bagian dari Manusia
Saya Benny. Dulu pedagang asongan di terminal. Sekarang analis data. Saya belajar bahwa emosi adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita. Yang membedakan bukan apakah kita pernah marah, kecewa, atau frustrasi, tapi bagaimana kita merespons emosi itu.
Dalam Mahjong Ways, seperti dalam kehidupan, emosi akan selalu datang. Euforia saat menang, frustrasi saat kalah, penasaran saat hampir menang. Semua itu wajar. Tapi kita punya pilihan: apakah kita akan dikendalikan emosi, atau kita yang mengendalikannya.
Jadi, lain kali ketika kamu bermain dan emosi mulai naik, ingatlah: ini cuma game. Tarik napas, tenangkan diri, dan ingat tujuan utamamu adalah hiburan. Kemenangan terbesar adalah ketika kamu bisa tersenyum, baik saat menang maupun kalah.
Jawabannya, saya serahkan pada Anda. Mau dikendalikan emosi, atau jadi pengendali?
Catatan kecil: Tulisan ini adalah refleksi tentang pentingnya memahami dan mengelola emosi, baik dalam game maupun kehidupan sehari-hari. Saya tidak bermaksud menggurui, hanya berbagi dari pengamatan dan diskusi dengan banyak orang. Jika Anda punya pengalaman atau tips lain tentang manajemen emosi, silakan bagikan. Karena dengan berbagi, kita sama-sama belajar menjadi manusia yang lebih dewasa dalam menghadapi segala situasi.
Home
Bookmark
Bagikan
About