Rahasia Fokus ala Pemain Mahjong Ways yang Bisa Anda Terapkan di Kantor

Rahasia Fokus ala Pemain Mahjong Ways yang Bisa Anda Terapkan di Kantor

Cart 88,878 sales
RESMI
Rahasia Fokus ala Pemain Mahjong Ways yang Bisa Anda Terapkan di Kantor

Rahasia Fokus ala Pemain Mahjong Ways yang Bisa Anda Terapkan di Kantor

Konsentrasi adalah kunci produktivitas. Terapkan teknik menjaga fokus dari para pemain andal untuk meningkatkan performa kerja Anda.

Namaku Benny. Dua belas tahun lalu, saya adalah seorang pedagang asongan di terminal bus antar kota. Setiap hari, dari pukul lima pagi hingga malam, saya menawarkan rokok, permen, dan kopi sachet kepada para penumpang yang baru turun atau menunggu keberangkatan. Tugas saya sederhana: menjual sebanyak mungkin. Tapi di balik kesederhanaan itu, tanpa sadar saya sedang mengamati sesuatu yang lebih besar: perilaku manusia.

Saya hafal betul, pukul 06.00-08.00 adalah waktu sibuk para pegawai. Mereka cenderung membeli kopi sachet dan rokok kretek. Pukul 10.00-14.00, giliran para pedagang yang pulang belanja. Mereka lebih sering beli permen untuk dijual lagi atau rokok filter yang lebih murah. Sore hari, para pelajar dan mahasiswa pulang kuliah, mereka membeli permen rasa-rasa baru yang lagi viral.

Saya mulai mencatat semuanya di buku bekas paket rokok. Tanpa gelar statistik, tanpa komputer canggih, saya sedang melakukan riset pasar. Saya belajar bahwa setiap gelombang penumpang punya kebutuhan berbeda, dan kalau saya bisa membaca pola itu, dagangan saya lebih cepat habis. Dari sinilah perjalanan saya sebagai analis data pasar dimulai.

Pukul 08.00: Sarapan dengan Mantan Rekan Kerja

Minggu lalu, saya sarapan dengan Andi, mantan rekan kerja di sebuah perusahaan riset pasar tempat saya sekarang bekerja. Ia kagum dengan cerita perjalanan saya.

"Ben, dulu lo jualan di terminal, sekarang jadi analis data. Banyak yang nggak percaya," kata Andi sambil nyeruput kopi.

Saya tertawa. "Lo tahu nggak, Di, ilmu riset pasar itu sebenernya udah saya praktekkin dari dulu. Waktu jualan asongan, saya harus tau jam berapa bapak-bapak kantoran turun, jam berapa emak-emak belanja pulang, dan camilan apa yang lagi trend di kalangan anak muda. Cuma dulu alatnya buku bekas, sekarang pake software."

"Tapi kan riset pasar butuh metodologi, data bersih, sampel representatif..."

"Iya, itu semua alat bantu. Tapi intinya sama: observasi, catat, cari pola, lalu ambil tindakan. Dulu saya catat jam sibuk di buku rokok, sekarang saya olah big data di laptop. Bedanya cepet atau lambat, tapi nalarnya sama."

Dari Catatan Pinggir ke Data Terstruktur

Dulu, di terminal, saya punya buku kecil. Saya catat:

  • Senin pagi: banyak pegawai, rokok kretek laris, kopi sachet laris.
  • Selasa siang: pedagang pulang, permen murah laris, rokok filter laris.
  • Jumat sore: mahasiswa pulang, permen rasa aneh-aneh laris, kopi kekinian (yang baru mulai trend) laris.

Catatan itu adalah data saya. Tanpa sadar, saya sedang melakukan segmentasi pasar. Saya tahu persis kapan harus stok barang A lebih banyak, dan kapan harus hindari barang B.

"Lalu, gimana ceritanya lo bisa sampai ke perusahaan riset?" tanya Andi suatu hari.

"Kebetulan. Ada konsumen yang ternyata manajer pemasaran sebuah merek makanan ringan. Waktu itu dia lagi survey di terminal, lihat dagangan saya paling cepat habis. Dia tanya, 'Mas, kok tau kalau sore begini anak-anak muda suka permen rasa bubble gum?' Saya tunjukin buku catatan saya. Dia tertarik. Awalnya saya diajak jadi asisten riset kecil-kecilan, lalu pelan-pelan belajar sampai sekarang."

Pukul 09.00: Pertemuan dengan Andi yang Lelah karena Multitasking

Pagi ini, saya sarapan lagi dengan Andi. Matanya sembab, wajahnya letih.

"Lo kenapa, Di? Kayak habis lembur seminggu?"

Andi menghela napas. "Bukan lembur, Ben. Tapi kerjaan numpuk. Saya coba kerjain semua sekaligus. Buka laptop, sambil bales chat, sambil dengerin musik, sambil sesekali buka medsos. Hasilnya? Sampe sore nggak ada yang beres. Malah tambah pusing."

Saya tersenyum. "Di, lo tahu nggak, lo baru aja melakukan kesalahan yang sama seperti pemain pemula Mahjong Ways."

Andi bingung. "Maksud lo?"

"Coba lo perhatikan pemain andal. Mereka main dengan fokus penuh. Nggak sambil nonton TV, nggak sambil bales chat. Mereka tahu, satu detik kehilangan fokus bisa bikin mereka salah ambil keputusan."

"Jadi, saya harus main game biar fokus?"

Saya tertawa. "Bukan main game-nya, tapi teknik fokusnya. Saya sering ngobrol dengan pemain andal di warnet dulu. Dari mereka, saya belajar beberapa rahasia fokus yang bisa diterapkan di kantor."

Rahasia Fokus #1: Single-Tasking, Bukan Multi-Tasking

Mitos terbesar di dunia kerja adalah multitasking. Banyak orang bangga bisa melakukan banyak hal sekaligus. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa multitasking justru menurunkan produktivitas hingga 40 persen.

"Di, lo tahu nggak, pemain Mahjong Ways andal itu nggak pernah main sambil ngapa-ngapain. Mereka fokus 100 persen ke layar. Mereka tahu, satu detik lengah bisa bikin mereka kehilangan momen penting."

"Tapi di kantor, kita dituntut cepat, Ben. Nggak bisa cuma ngerjain satu hal."

"Cepat bukan berarti serempak. Coba lo ubah cara kerja: kerjakan satu tugas sampai selesai, baru pindah ke tugas lain. Itu yang disebut single-tasking. Hasilnya justru lebih cepat karena lo nggak perlu bolak-balik switch konteks."

Faktanya: otak kita tidak dirancang untuk multitasking. Yang kita lakukan saat "multitasking" sebenarnya adalah task-switching dengan sangat cepat, dan setiap switch butuh energi dan waktu.

Pelajaran dari pemain game: fokus pada satu layar, satu putaran, satu keputusan. Begitu juga di kantor: fokus pada satu laporan, satu email, satu rapat.

Pukul 11.00: Mengamati Pemain di Warnet

Setelah sarapan, saya mampir ke warnet langganan. Masih sama seperti dulu, hanya sekarang lebih banyak yang main game online. Saya melihat seorang pemain, sebut saja Rudi, sedang asyik main Mahjong Ways.

Yang menarik, Rudi main sendirian di pojok. Headset di telinga, mata fokus ke layar. Tangannya sesekali bergerak, tapi mostly diam. Saya perhatikan 30 menit, dia hampir tidak bergerak.

Saya mendekat setelah dia berhenti. "Dik, mainnya fokus banget."

Rudi tersenyum. "Iya, Pak. Kalau nggak fokus, bisa ketinggalan scatter. Apalagi pas lagi bonus, harus konsentrasi penuh."

"Berapa lama biasanya main?"

"Saya atur timer, Pak. 45 menit main, 15 menit istirahat. Biar mata nggak capek dan otak tetap segar."

Saya manggut-manggut. Ini pelajaran kedua.

Rahasia Fokus #2: Teknik Pomodoro ala Gamer

"Di, lo tahu teknik Pomodoro? Kerja 25 menit, istirahat 5 menit. Pemain game andal punya versi mereka sendiri."

"Maksud lo?"

"Mereka main dalam sesi-sesi pendek. Misalnya 45 menit main, 15 menit istirahat. Di kantor, lo bisa terapin: 50 menit kerja fokus, 10 menit istirahat. Matikan semua notifikasi, tutup tab yang nggak perlu, kerjakan satu tugas dengan full perhatian."

"Terus pas istirahat?"

"Beneran istirahat. Jangan buka medsos atau email. Berdiri, jalan sebentar, minum air, lihat pemandangan. Biar otak beneran recharge."

Saya jelaskan bahwa otak kita punya dua mode: focused mode dan diffuse mode. Focused mode untuk konsentrasi tinggi, diffuse mode untuk relaksasi dan kreativitas. Keduanya sama pentingnya.

Faktanya: pemain andal paham kapan harus fokus dan kapan harus istirahat. Mereka tidak memaksakan diri main berjam-jam tanpa jeda, karena tahu itu kontraproduktif.

Pukul 13.30: Ngobrol dengan Bu RT soal Gangguan

Siang itu, saya mampir ke warung langganan. Bu RT, pemilik warung, sedang melayani pembeli sambil sesekali melihat ponsel.

"Bu RT, sibuk banget?"

"Iya, Mas. Sambil jualan, sambil bales chat grup arisan, sambil dengerin berita. Kadang malah salah ngasih kembalian."

Saya tersenyum. "Bu RT kena multitasking. Sama seperti pegawai kantor."

Saya ceritakan tentang percakapan dengan Andi dan Rudi.

"Jadi, saya harusnya fokus jualan dulu, baru bales chat?" tanya Bu RT.

"Iya, Bu. Pelanggan akan lebih puas kalau dilayani dengan fokus. Chat bisa ditunggu sebentar."

Bu RT manggut-manggut. "Berarti saya harus atur waktu ya, Mas?"

"Iya, Bu. Sama seperti pemain game: mereka punya waktu main, waktu istirahat, dan waktu untuk hal lain. Semua terstruktur."

Rahasia Fokus #3: Mengelola Gangguan

Kembali ke Andi. Saya jelaskan rahasia ketiga.

"Di, pemain andal itu ahli mengelola gangguan. Mereka main di tempat yang kondusif, pakai headset, matikan notifikasi. Mereka tahu bahwa setiap gangguan butuh waktu untuk balik fokus."

"Berapa lama waktu balik fokus, Ben?"

"Penelitian bilang rata-rata 23 menit. Bayangkan, lo terganggu notifikasi satu detik, butuh 23 menit untuk balik ke level fokus sebelumnya. Kalau lo terganggu 10 kali sehari, berapa jam waktu lo hilang?"

Andi membelalak. "Gila juga ya."

"Nah, itu. Di kantor, lo bisa terapin: matikan notifikasi saat kerja, tentukan waktu khusus buat cek email dan chat, dan buat batasan dengan rekan kerja. Misalnya, pasang status 'sedang fokus, jangan diganggu kecuali darurat'."

Faktanya: gangguan adalah musuh utama fokus. Dan kita punya kendali atas sebagian besar gangguan itu.

Tiga Teknik Fokus dari Pemain Mahjong Ways

Dari pengamatan dan diskusi, saya merangkum tiga teknik fokus yang bisa dipelajari dari pemain Mahjong Ways:

  • Single-Tasking: Kerjakan satu hal dalam satu waktu. Matikan semua yang tidak relevan.
  • Sesi Terstruktur: Kerja dalam blok waktu (misal 50 menit) lalu istirahat (10 menit). Jangan memaksakan diri.
  • Kelola Gangguan: Matikan notifikasi, batasi interupsi, ciptakan lingkungan kondusif.

Tiga teknik ini sederhana, tapi sulit dilakukan konsisten. Butuh latihan dan kesadaran.

Pukul 16.30: Diskusi dengan Komunitas Productivitas

Sore itu, saya ikut diskusi online dengan komunitas produktivitas. Topiknya: "Belajar Fokus dari Tempat Tak Terduga".

Saya ceritakan tentang pengamatan saya pada pemain Mahjong Ways.

"Teman-teman, kita sering menganggap game sebagai musuh produktivitas. Tapi kalau kita amati, pemain andal justru punya teknik fokus yang bisa kita tiru."

Seorang peserta bertanya, "Pak Benny, apa bedanya fokus main game dengan fokus kerja?"

"Secara psikologis, sama. Yang membedakan adalah motivasi. Di game, motivasinya jelas: menang, dapat skor, naik level. Di kerja, motivasi kadang abstrak. Tapi tekniknya bisa sama: buat target jelas, ukur kemajuan, beri reward setelah selesai."

"Jadi, kita harus gamifikasi pekerjaan?"

"Bisa. Atau setidaknya, ambil teknik fokusnya, bukan hiburannya."

Pukul 19.00: Ngobrol dengan Rina, Psikolog Kognitif

Malamnya, saya menelepon Rina, teman yang psikolog kognitif. Saya ceritakan tentang teknik fokus ini.

"Ben, yang kamu katakan itu benar secara neuroscience. Fokus itu sumber daya terbatas. Setiap kali kita switch tugas, kita pakai energi. Makin sering switch, makin cepat energi habis."

"Terus, cara terbaik menjaga fokus?"

"Pertama, kurangi gangguan eksternal: notifikasi, suara, orang. Kedua, kurangi gangguan internal: pikiran ngelantur, khawatir, overthinking. Ketiga, latih fokus seperti otot: makin sering dilatih, makin kuat."

"Berarti game bisa jadi alat latihan fokus?"

"Bisa, asalkan lo main dengan kesadaran. Bukan sekadar hiburan, tapi latihan konsentrasi. Tapi ingat, jangan kebanyakan. 30-45 menit sehari cukup."

Pukul 21.30: Merenung di Meja Kerja

Malam ini, setelah seharian mengamati dan berdiskusi, saya duduk merenung. Saya buka buku catatan lama, tempat saya dulu mencatat perilaku pembeli di terminal.

Saya teringat, dulu saya juga harus fokus saat jualan. Kalau tidak, bisa salah ngasih kembalian atau kehilangan pembeli. Tapi dulu saya tidak punya teori, hanya insting.

Sekarang, setelah memahami neuroscience dan psikologi kognitif, saya sadar bahwa fokus itu bisa dilatih. Dan latihannya bisa dari mana saja—termasuk dari mengamati pemain game.

Pukul 08.30: Sarapan Kedua dengan Andi

Seminggu kemudian, saya sarapan lagi dengan Andi. Wajahnya lebih segar.

"Ben, saya coba teknik yang lo kasih. Matikan notifikasi, kerja 50 menit istirahat 10, fokus satu tugas. Hasilnya, pekerjaan saya selesai lebih cepat. Pulang nggak bawa beban."

"Syukurlah, Di. Gampang kan?"

"Gampang diomongin, susah dijalanin. Tapi setelah dicoba, efeknya luar biasa. Saya jadi lebih tenang, nggak rempong."

"Itu tanda lo mulai mengendalikan fokus, bukan dikendalikan gangguan."

"Iya. Dan yang lucu, saya jadi ingat waktu kecil main game. Dulu saya bisa fokus berjam-jam tanpa sadar. Sekarang saya terapkan teknik yang sama buat kerja."

Saya tersenyum. Andi akhirnya paham.

Penutup: Fokus sebagai Keterampilan

Saya Benny. Dulu pedagang asongan di terminal. Sekarang analis data pasar di perusahaan riset. Saya belajar bahwa fokus bukan bakat, tapi keterampilan yang bisa dilatih.

Pemain Mahjong Ways, dengan segala kontroversinya, bisa menjadi guru yang baik dalam hal fokus. Mereka paham kapan harus konsentrasi penuh, kapan harus istirahat, dan bagaimana mengelola gangguan. Teknik mereka sederhana, tapi efektif.

Di era digital yang penuh distraksi ini, kemampuan fokus adalah aset berharga. Mereka yang bisa fokus akan lebih produktif, lebih kreatif, dan lebih bahagia. Mereka yang terus terganggu akan tertinggal.

Jadi, lain kali ketika Anda melihat orang main game, jangan buru-buru menghakimi. Bisa jadi mereka sedang melatih fokus yang akan berguna di kantor. Dan Anda pun bisa belajar dari mereka.

Jawabannya, saya serahkan pada Anda. Mau mulai melatih fokus hari ini?

Catatan kecil: Tulisan ini adalah refleksi seorang pengamat perilaku yang percaya bahwa ilmu bisa datang dari mana saja—termasuk dari game. Saya tidak bermaksud mengajak Anda main game berlebihan. Justru sebaliknya: ambil teknik positifnya, tinggalkan yang negatif, dan terapkan di kehidupan nyata. Jika Anda punya pengalaman atau teknik fokus lain, silakan bagikan. Karena dengan berbagi, kita sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih fokus dan produktif.